PIEF dan Otsuka
Saya coba buat tulisan tentang judul diatas, semoga nggak ngilang lagi.
PIEF singkatan dari Pelita Indonesia Education and Foundation, alamat webnya www.pelita-indonesia.org . Merupakan organisasi NPO (Non Profit Organisation), yang didirikan oleh dua orang wanita Jepang yang peduli terhadap masalah pendidikan anak di Indonesia.
Saat ini sebagian besar anggotanya terdiri dari para mahasiswa Indonesia yangs sekolah di Tokyo dan sekitarnya serta beberpa orang voluntir orang Jepang.
Kegiatannya yang berkesinambungan baru berupa beasiswa anak-anak pelajar SD dan SMP yang diberikan setiap bulan di beberapa daerah di Indonesia. Dan kegiatan lainnya yang bersifat insidental adalah berupa even-even galang dana. Salah satunya yang diadakan pada tanggal 7 Mei yang akan datang di sebuah gedung pertunjukkan di pusat kota Tokyo, Yotsuya Hall Shinjuku Tokyo. Acara berupa Charity Day untuk galang dana Aceh. Isinya berupa pengenalan kebudayaan Indonesia dari berbagai daerah. Saya tertarik gabung di organisasi ini setelah salahs eorang teman suami mengumumkannya di milis kampus suami saya dulu. Dan terutama karena isinya adalah tentang pendidikan anak.
Di PIEF baru saya sendiri yang anggotanya berstatus ibu-ibu, yang lainnya adalah mahasiswa yang tentu saja sebagian besar lajang. Ya,.. cuek aja kali ya,.. biar serasa anak kuliahan he,..he..
walopun nggak bener-bener keliatan lajang,.. wong tiap ikut rapat saya selalu bawa Hasya,..hi...hi..
Dan satu lagi tempat yang jadi kegiatan sampingan saya saat ini adalah Mesjid Otsuka. Sebuah mesjid yang dibangun oleh komnuitas muslim Pakistan, letaknya di dekat eki Otsuka, salah satu stasiun yang dilewati oleh kereta Yamanote line. Setiap Sabtu minggu pertama dan ketiga menjadi rutinitas saya kali ini. Duet dengan Hanifah san seorang muslimah Jepang asli Jepang yang sangat fasih berbahasa Indonesia, gantian menyampaikan sedikit materi tentang keislaman, kepada para muallaf wanita jepang. Mereka sebagian besar masuk islam karena suaminya Islam (kebanyakan Pakistan), tapi ada pula karena mencari sedniri dan akhirnya secara rela mesuk islam. Para suaminya tidak hanya orang Pakistan tapi juga dari negara-negara lain seperti Myanmar, Afrika, Mesir dan lain-lain. Awalnya saya ragu unutk menerima tawaran ini, karena saya merasa bila kita akan menyampaikan sesuatu maka akan sangat terasa oleh pendengar bila materi yang disampaikan telah terlebih dahulu kita rasakan atau beanr-benar kita laksanakan. Lha saya?... apa sih ilmu saya,.. Saya memang membaca banyak hal, tapi itu masih sebatas untuk konsumsi pribadi. Sedangkan untuk kapasitas menyampaikan lagi sepertinya saya masih belum punya-apa-apa.
Tapi sepertinya saya nggak punya pilihan lain, selain mencobanya, dengan catatan saya berusaha apa yang saya sampaikan adalah yang sudah pernah saya rasakan atau minimal sedang saya usahakan pelaksanaannya saat itu.
Teknisnya sebagai berikut, saya sampaikan dalam bahasa Indonesia kemudian Hanifah san menterjemahkan dalam bahasa Jepang, begitu terus sampai materinya habis. Jadi tentu saja materi yang saya sampaikan harusnya setengah dari jumlah materi yang Hanifah san sampaikan, karena waktu yang digunakan jumlahnya sama.
Pertama kali saya melakukannya sangat kagok,.. kadang nggak tahu kalimat apa yang kira-kira bisa dimengerti dengan mudah. Padat, jelas dan tidak muter-muter. Justru sebaliknya,.. kadang saya ,menggunakan kalimat yg kurang efektif, muter-muter dan ngulang,.. kasian Hanifah san,.. kadang kesulitan untuk menterjemahkan dalam bahasa Jepang. Tapi sejalan dengan waktu,.. mudah-mduahan berikut-berikutnya saya bsia jauh lebih mahir dalam memilih kata-kata dan ungkapan sehingga mudah dimengerti dan menjelaskan.
PIEF singkatan dari Pelita Indonesia Education and Foundation, alamat webnya www.pelita-indonesia.org . Merupakan organisasi NPO (Non Profit Organisation), yang didirikan oleh dua orang wanita Jepang yang peduli terhadap masalah pendidikan anak di Indonesia.
Saat ini sebagian besar anggotanya terdiri dari para mahasiswa Indonesia yangs sekolah di Tokyo dan sekitarnya serta beberpa orang voluntir orang Jepang.
Kegiatannya yang berkesinambungan baru berupa beasiswa anak-anak pelajar SD dan SMP yang diberikan setiap bulan di beberapa daerah di Indonesia. Dan kegiatan lainnya yang bersifat insidental adalah berupa even-even galang dana. Salah satunya yang diadakan pada tanggal 7 Mei yang akan datang di sebuah gedung pertunjukkan di pusat kota Tokyo, Yotsuya Hall Shinjuku Tokyo. Acara berupa Charity Day untuk galang dana Aceh. Isinya berupa pengenalan kebudayaan Indonesia dari berbagai daerah. Saya tertarik gabung di organisasi ini setelah salahs eorang teman suami mengumumkannya di milis kampus suami saya dulu. Dan terutama karena isinya adalah tentang pendidikan anak.
Di PIEF baru saya sendiri yang anggotanya berstatus ibu-ibu, yang lainnya adalah mahasiswa yang tentu saja sebagian besar lajang. Ya,.. cuek aja kali ya,.. biar serasa anak kuliahan he,..he..
walopun nggak bener-bener keliatan lajang,.. wong tiap ikut rapat saya selalu bawa Hasya,..hi...hi..
Dan satu lagi tempat yang jadi kegiatan sampingan saya saat ini adalah Mesjid Otsuka. Sebuah mesjid yang dibangun oleh komnuitas muslim Pakistan, letaknya di dekat eki Otsuka, salah satu stasiun yang dilewati oleh kereta Yamanote line. Setiap Sabtu minggu pertama dan ketiga menjadi rutinitas saya kali ini. Duet dengan Hanifah san seorang muslimah Jepang asli Jepang yang sangat fasih berbahasa Indonesia, gantian menyampaikan sedikit materi tentang keislaman, kepada para muallaf wanita jepang. Mereka sebagian besar masuk islam karena suaminya Islam (kebanyakan Pakistan), tapi ada pula karena mencari sedniri dan akhirnya secara rela mesuk islam. Para suaminya tidak hanya orang Pakistan tapi juga dari negara-negara lain seperti Myanmar, Afrika, Mesir dan lain-lain. Awalnya saya ragu unutk menerima tawaran ini, karena saya merasa bila kita akan menyampaikan sesuatu maka akan sangat terasa oleh pendengar bila materi yang disampaikan telah terlebih dahulu kita rasakan atau beanr-benar kita laksanakan. Lha saya?... apa sih ilmu saya,.. Saya memang membaca banyak hal, tapi itu masih sebatas untuk konsumsi pribadi. Sedangkan untuk kapasitas menyampaikan lagi sepertinya saya masih belum punya-apa-apa.
Tapi sepertinya saya nggak punya pilihan lain, selain mencobanya, dengan catatan saya berusaha apa yang saya sampaikan adalah yang sudah pernah saya rasakan atau minimal sedang saya usahakan pelaksanaannya saat itu.
Teknisnya sebagai berikut, saya sampaikan dalam bahasa Indonesia kemudian Hanifah san menterjemahkan dalam bahasa Jepang, begitu terus sampai materinya habis. Jadi tentu saja materi yang saya sampaikan harusnya setengah dari jumlah materi yang Hanifah san sampaikan, karena waktu yang digunakan jumlahnya sama.
Pertama kali saya melakukannya sangat kagok,.. kadang nggak tahu kalimat apa yang kira-kira bisa dimengerti dengan mudah. Padat, jelas dan tidak muter-muter. Justru sebaliknya,.. kadang saya ,menggunakan kalimat yg kurang efektif, muter-muter dan ngulang,.. kasian Hanifah san,.. kadang kesulitan untuk menterjemahkan dalam bahasa Jepang. Tapi sejalan dengan waktu,.. mudah-mduahan berikut-berikutnya saya bsia jauh lebih mahir dalam memilih kata-kata dan ungkapan sehingga mudah dimengerti dan menjelaskan.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home