Belajar Jujur
Bulan Maret-April seperti saat ini adalah saat-saat orang pada pulang. Karena rata-rata program belajar atau kontrak kerja dimulai dan diakhiri di bulan-bulan ini. Pulang ke Indonesia setelah beberapa lama tinggal di Jepang, cukup beragam rasanya. Ada yang berat sekali meninggalkan kehidupan yang serba praktis di sini, sampai nggak kebayang bisa hidup nggak ya di Ina. Ada juga yang dengan riang dan nggak sabaran pengen cepet sampe pulang dan tinggal balik ke Ina.
Saat-saat ini pula banyak orang pamit, dan ketika pamit sudah jadi kebiasaan untuk menyebutkan nama-nama yang dirasa cukup dekat dan cukup berjasa bagi yang bersangkutan. Dan di salah satu milis, saya membacanya, saya berusaha cari nama saya disitu, disebutin apa nggak... dan ternyata nggak ada, artinya saya bukan termasuk orang yang cukup lekat untuk diingat sehingga masuk ke barisan,.. "juga mbak-mbak lainnya yang tidak mungkin saya sebutkan satu-persatu....". Padahal saya merasa cukup dekat dan pernah bersama dalam beberapa kesempatan, namun ternyata masih banyak orang lain yang lebih lekat ketimbang saya.
Awalnya saya ngiri dan cemburu, kok nggak diingat ya,... tapi sesaat beberapa detik kemudian saya tersadar bahwa parameter berbuat baik kok tergantung diingat atau nggak. Mengandalkan ingatan manusia mana mungkin akan merangkum semuanya. Apalagi manusia seringkali tidak konsisten.
Seketika itu pula saya tersadar, dan kemudian hanya bisa tersenyum sendiri,.. ya senyum-senyum geli campur malu,.. Geli karena saya seperti anak kecil yang selalu berharap suatu pengakuan. Seperti Hanif yang bila selesai mengerjakan suatu sikap yang baik selalu bertanya kepada saya,.."Ibu, Hanif sugoi (hebat),..ya udah bantu Adek,.." "Ibu,.. Hanif sugoi nggak udah habis sayurnya,."
Malu, betapa ternyata saya bisa merasakan dan melihat bahwa perbuatan baik saya masih saja diiringi pamrih, dimana ini berarti saya telah berbuat syirik,.. melakukan sesuatu bukan karena Allah semata, syirik telah menduakan Allah ketika saya berbuat baik, na'udzubillah,...
Ditengah rasa malu ini pun akhirnya saya hanya pasrah,.. entahlah bagaimana nasib perbuatan baik saya di sisi Allah, karena ternyata saya sendiri pun telah mersakan betapa rapuhnya niat saya. Hanya Allah-lah yang mengetahui.
Selebihnya saya kembali bersyukur Allah memberikan saya rasa ini. Rasa untuk mengetahui bahwa saya tidak jujur ketika berbuat baik, tidak jujur terhadap ketulusan saya , semata-mata karena Allah. Dengan tidak disebutkan nama saya, dengan tidak mengingat nama saya, membuat saya bisa menelusuri bahwa memang inilah saya, jujur melihat kelemahan dari nilai ikhlas perbuatan saya.
Alhamdulillah,.. segala puji bagi Allah, Rabbana Walakalhamdu,.. segala puji memang milik Allah.
Ya Allah, betapa diri ini begitu lemah adanya,..
Ya allah,. ajari kami selalu berdzikir kepada Mu
Ya Allah,..ampuni kami... ajari kami untuk selalu bersyukur kepadaMu...
Ya allah,.. ajari kami untuk mencintaiMu,...
Terkahir saya ucapkan terima kasih, kepada mereka yang tidak menyebut nama saya,.. hingga menyebabkan saya punya kesadaran ini. Selamat jalan,..
Saat-saat ini pula banyak orang pamit, dan ketika pamit sudah jadi kebiasaan untuk menyebutkan nama-nama yang dirasa cukup dekat dan cukup berjasa bagi yang bersangkutan. Dan di salah satu milis, saya membacanya, saya berusaha cari nama saya disitu, disebutin apa nggak... dan ternyata nggak ada, artinya saya bukan termasuk orang yang cukup lekat untuk diingat sehingga masuk ke barisan,.. "juga mbak-mbak lainnya yang tidak mungkin saya sebutkan satu-persatu....". Padahal saya merasa cukup dekat dan pernah bersama dalam beberapa kesempatan, namun ternyata masih banyak orang lain yang lebih lekat ketimbang saya.
Awalnya saya ngiri dan cemburu, kok nggak diingat ya,... tapi sesaat beberapa detik kemudian saya tersadar bahwa parameter berbuat baik kok tergantung diingat atau nggak. Mengandalkan ingatan manusia mana mungkin akan merangkum semuanya. Apalagi manusia seringkali tidak konsisten.
Seketika itu pula saya tersadar, dan kemudian hanya bisa tersenyum sendiri,.. ya senyum-senyum geli campur malu,.. Geli karena saya seperti anak kecil yang selalu berharap suatu pengakuan. Seperti Hanif yang bila selesai mengerjakan suatu sikap yang baik selalu bertanya kepada saya,.."Ibu, Hanif sugoi (hebat),..ya udah bantu Adek,.." "Ibu,.. Hanif sugoi nggak udah habis sayurnya,."
Malu, betapa ternyata saya bisa merasakan dan melihat bahwa perbuatan baik saya masih saja diiringi pamrih, dimana ini berarti saya telah berbuat syirik,.. melakukan sesuatu bukan karena Allah semata, syirik telah menduakan Allah ketika saya berbuat baik, na'udzubillah,...
Ditengah rasa malu ini pun akhirnya saya hanya pasrah,.. entahlah bagaimana nasib perbuatan baik saya di sisi Allah, karena ternyata saya sendiri pun telah mersakan betapa rapuhnya niat saya. Hanya Allah-lah yang mengetahui.
Selebihnya saya kembali bersyukur Allah memberikan saya rasa ini. Rasa untuk mengetahui bahwa saya tidak jujur ketika berbuat baik, tidak jujur terhadap ketulusan saya , semata-mata karena Allah. Dengan tidak disebutkan nama saya, dengan tidak mengingat nama saya, membuat saya bisa menelusuri bahwa memang inilah saya, jujur melihat kelemahan dari nilai ikhlas perbuatan saya.
Alhamdulillah,.. segala puji bagi Allah, Rabbana Walakalhamdu,.. segala puji memang milik Allah.
Ya Allah, betapa diri ini begitu lemah adanya,..
Ya allah,. ajari kami selalu berdzikir kepada Mu
Ya Allah,..ampuni kami... ajari kami untuk selalu bersyukur kepadaMu...
Ya allah,.. ajari kami untuk mencintaiMu,...
Terkahir saya ucapkan terima kasih, kepada mereka yang tidak menyebut nama saya,.. hingga menyebabkan saya punya kesadaran ini. Selamat jalan,..

0 Comments:
Post a Comment
<< Home