Nama kota berdasarkan urutan kunjungan. JAdi setelah menginap satu malam di Nagoya, kami bernagkat ke Kyoto, melihat-lihat kota tua yang begitu serings aya dengar sebagai kota wisata di Jepang.
Mungkin seharusnya bila akan bepergian melihat-lihat kota haruspunya referensi yang cukup, supaya tahu tujuan dan tempat mana yang akan dikunjungi. Dan saya tidak mempunyai itu smeua. Suamis aya hanya sempat melihat-lihat di situs, ada beberapa tempat yang bsia dikunjungi, salah satunya Kinkakuji, temple emas. Langsung kami meluncur ke sana. Iya memang tempel-nya dari emas. Bapak saya, bilang itu sih cuman cat kuningan biasa, bukan emas. suami saya protes, karena setahu dia, bangunan stu smeua emas. Jadi kerangka yang terdiri dari kayu ditempeli dg lempengan emas. Bagus, memang, megah. Dan yang pasti tempat sekitarnya rapih dan bersih sekali. Di kelilingi oleh air, dan taman-taman kecil, indah dan asri.
Berikutnya ingin pergi ke musium lokomotif tua di pusat kota Kyoto, tapi karena nyasar, jadinya keburu tutup. Akhirnya mampir ke Kyoto Tower. Lihat kota Kyoto dari ktinggian 133 meter.
Sebenarnya kira-kira sma aja ya tat kota di Jepang, mirip-mirip. Mungkin karena pembangunan yang begitu merata, rasanya sama aja kayak di Tokyo.
Setelah dari Kyoto Tower, kami smeua bernagkat ke Nara, mau mnginap di rumah kohai suami di Panasonic Scholarship. Sampai sekitar pukul 8 malam, langsung makan malam dan bersihkan badan. anak-anak kelelahan dan tak lama kemudian tidur.
Keesokan harinya berangkat ke Kobe, tuan rumah skealian mau ke mesjid Kobe karena ada acara Harun Yahya. Sedangkan kami berniat putar-putar kota Kobe. Parkir di pelabuhannya. Sayang cuaca mendung dan hujan deras, jadi tidak bisa melihat keindahan pantai ditengah kemgehan pelabuhan tertua di Jpeang. Di sekitar pelabuhan ada musium maritim yangs meuanya gratis. Ada pertunjukan teater 3 dimensi yang juga gratis. Bercerita tentang pentingnya memelihara kelestarian alam dalam bentuk cerita anak, lumyan menarik juga.
Dari museum itu diketahui sejarah kota pelabuhan tertua dan perkembangan akulturasi dan asimilasi kebudayaan Jepang dengan kebudayaanbarat lewat hubungan dagang.
Dari museum, masuk ke Kobe Tower hanya 108 meter saja tingginya. Setelah itu berusaha cari makan siang, puter-puter kota Kobe yang hiruk pikuk dnegan manusia yang berbelanja. MEncari makan halal di kota pelabuhan gini kok ya sulit sekali. Berkeliling hampir 1,5 jam mencari makanan. anak-anak dan bapak saya akhirnya tertidur duluan saking lamanya. Setiap masuk ke kombini selalu kehabisan makan siang. Yang ada hanya onogiri dan soba, tadinya kalo bisa dapetin makanan lain selian itu. Tapi saking sudah pusingnya, ya kahirnya beli juga onigiri dan soba deh,..
Yah namanya makan soba cuman mie ala jepang yang campur soyu saja, ya,..shoganai na,..
Waktu sholat ashar kamimenjemput tuan rumah di Nara, untuk kembali pulang bersama ke NAra. Saya sholat di mesjid Kobe yang terkenal itu. Terkenal karena tidak runtuh ketika gempa besar menyerang Koba. Msjid tertua di Jepang, katanya. DAn saya bertemu dengan beberapa orang Indonesia yang sebelumnya hanya tahu lewat milis Fahima. Alhamdulillah bisa bersilaturahmi secara tak sengaja.
Pulang ke Nara ternyata macet,..jadi agak larut sampe di rumah. Makan malam dan akhirnya siap-siap istirahat. Keesokan harinya kami akan lanjut ke Kyoto unutk mampir sebentar ke museum lokomotif, karena kepalang janji sama anak-anak akan melihat lokomotif tua berjalan di museum tersebut. tapi memang bukan rejeki kami, museum itu tutup di hari tersebut, ya akhirnya kembali kami berkeliling Kyoto melihat tempel da tempel lagi. Salah satunya Ginkakuji. Tempel dari perak, tapi sayang yang terbuat perak hanya puncak tempelnya akja, berbentuk ayam jago (kalo nggak salah). AKrena terlalu sore, jadinya buru-buru membeli beberpaa suvenir dan kerajinan tangan khas Kyoto. Untunglah sempat melihat dua orang geisha, yang sebelumnya hanya saya lihat dari tivi-tivi saja. Banyak para wisatawan lain yang juga cukup antusias berfoto dnegan mereka.
Dari Kyoto, perjalan diteruskan kembali menuju Nagoya, kembali numpang penginapan di rumah keluarga Joko-Desi.
Kami sempatkan makan malam dulu di slaha satu restoran masakan itali, supaya tidak merepotkan tuan rumah. TIba di rumah pukul 10 malam, langsung tidur .
Besoknya adlah hari terakhir, selanjutnya akan pulang ke Tokyo. Ada 4 keluarga yang total menginap di rumah Desi malam itu. Dan semuanya bersama-sama ingin melihat kota Nagoya, terutama katanya ada yang namanya OASIS, sebuah koalm berbentuk oval di atas sebuah gedung perbelanjaan. Tapi sebelumnya kami mencari toko kimono bekas, yang dengar-degar cukup murah. Akhirnya ketemu juga tuh toko, tapi ternyata nggak banyak yang bisa dibeli, karena memang harganya nggak murah juga sih,..hihihi.
Dari toko itu rombongan bergerak mencari makan siang menjelang sore itu. KE sebuah restoran Turki, eh ya kok kebetulan ya,..tokonya juga tutup, padahal anak-anak juga bapak saya sudah begitu kelaparan. akhirnya diputuskan untuk makan di restoran karea yang punya muslim India. Tapi syang mereka baru saja buka jadi belum sempat menyiapkan segalanya dnegan baik. Maka tinggallah kami menunggu dalam hitungan lebih dari 30 menit untuk sebuah hidangan kare. anak saya yang asalnya tidak tahan makan ayam tandori karean pedas rasanya, kali ini melahapnya tanpa jeda, lapar kali ye,..hanya setiap satu suap ayam, satu dua teguk air putih.
Alhamdulillah, akhirnya kami makan dengan nikmat dan menghabiskan seluruh hidangan yang ada.
Perut sudah kenyang, siap-siap pergi ke OASIS, dan ternyata memang betul indah sekali. Apalagi waktu di malam hari, cahaya lampu remag-remang, belum lagi gemerlap kota Nagoya menambah keindahan konstruksi bangunan yang ada. Setelah puas berfoto-foto, saya dan kelauarga langsung meluncur ke Tokyo pulang menuju rumah tercinta. Berangkat dari _Nagoya pukul 9 malam. Sempat tidur sebentar di service area di jalan tol, Nagoya-TOkyo, adakurang lebih 1 jam lamanya, supirnya nggak kuat ngantuk berat. Akhirnya tiba di rumah pukul 4 dini hari. Alhamdulillah semuanya lancar tanpa hambatan.
Perjalanan selama 5 hari, cukup melelahkan tapi menyenangkan. Walaupun perjalanan ini tidaklah terlalu cocok untuk anak-anak, karena tempat-tempat yang dituju tidak ada unsur hiburan anak-anaknya. Tapi kami berjanji akan mengganti itu di kemudian hari.
Terima kasih kepada keluarga Joko-Desi yang sudah menampung kami dengan segala pelayanannya. Juga kepada kelaurga Khoirul-Yayu, yang telah direpotkan oleh kami terutama kedua anak kami yang sellau membuat berantakan mainan.
Semoga segala kebaikannya mendapat ganti yang ebrlipat ganda oleh Allah SWT. Amiiin.